SEJARAH RASULALLAH

Minggu, 24 September 2023

4 PERKARA BAIK DAN 4 PERKARA JAUH LEBIH BAIK

 


Dalam kesempatan kali ini, saya menulis isi Ceramah yang disampaikan Oleh Ust. Suparman S.Pd.I dalam Pengajian Rutin Komunitas Pemuda Islam Serang Baru (KOPI SERBA) yang dilaksanakan dihari Jum’at malam sabtu, 22 September 2023.

Sebelum ke isi materi, saya ingin mengundang para pembaca semua untuk bisa hadir dalam Pengajian Rutin KOPI SERBA yang dilaksanakan setiap hari Jum’at malam Sabtu Ba’da Isya dan bertempat di Mushola Kantor Desa Jayasampurna, Serang Baru – Bekasi. Pengajian rutin ini terbuka untuk umum.

Untuk isi materi yang disampaikan dipekan ini (22-Sept-2023), penceramah menyampaikan 2 Tema yang dinukil dari Kitab Nashoihul Ibad, yakni :

Ø  Empat perkara yang nilainya baik, namun ada empat perkara yang nilainya jauh lebih baik.

Ø  Empat perkara yang buruk, namun ada empat perkara yang nilanya jauh lebih buruk.

A.   Empat perkara yang nilainya baik, namun ada empat perkara lain yang nilainya jauh lebih baik, yaitu :

1.   Adanya rasa malu pada kaum Lelaki adalah baik, namun jauh lebih baik lagi bila rasa malu itu ada pada kaum Perempuan.

 وَالْعَدْلُ مِنْ كُلِّ اَحَدٍ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الآُمَرَاءِ اَحسَنُ

Rasa malu tidak dapat dipisahkan dari iman yang keduanya merupakan pasangan satu sama lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim, beliau berkata:

Artinya: “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna.” (HR. Al Hakim).

 

Karena itu, sangat penting untuk kita menjaga rasa malu. Apalagi di zaman sekarang dengan realita kehidupan yang sangat jauh dari yang syari’at agama ajarkan, dengan mudahnya rasa malu ditinggalkan. Berlengak lenggok menunjukan aurat di media sosial demi meraup like yang banyak dari berjuta pasang mata yang melihat.

 

“Jika seorang wanita itu sudah tidak memiliki rasa malu maka hancurlah dunia ini.” Pernyataan tersebut agaknya tidak berlebihan. Sebab, sifat malu membedakan manusia dengan binatang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181)

 

2.   Bersikap Adil yang dimiliki pada setiap orang itu baik, namun sikap Adil yang dimiliki oleh Para Pemimpin jauh lebih baik.

وَالتَّوبَةُ مِنَ الشَّيْخِ حَسَنَةٌ وَلَكِنَّهَا مِنَ الشَبَابِ اَحْسَنُ

Islam mengajarkan para pemeluknya untuk menjunjung tinggi asas keadilan karena agama ini membawa rahmat bagi seluruh alam. Orang yang adil adalah orang yang memihak kepada kebenaran. sebagaimana tercantum dalam Surat An-Nahl ayat 90. Artinya, “Sungguh Allah memerintahkan (kamu) untuk berbuat adil dan berbuat baik,” (Surat An-Nahl ayat 90).

Apalagi bagi seorang pemimpin, adil harus menjadi syarat wajib yang ada dalam diri seorang pemimpin, baik pemimpin suatu organisasi, wilayah ataupun negara. Adil jangan hanya menjadi slogan yang terpampang besar dalam sebuah baliho semata, namun lupa ketika sudah terpilih menjadi seorang pemimpin. Padahal dalam Hadits riwayat Bukhori dan Muslim, pemimpin yang adil disebut pertama sebagai kelompok yang mendapat naungan Allah di hari kiamat.

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah, seorang yang dibujuk berzina oleh lawan jenis yang berpangkat dan rupawan lalu menjawab, ‘Aku takut kepada Allah,’ seseorang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir di kesunyian dengan menitikkan air mata,’” (HR Bukhari dan Muslim).

3.   Tobatnya orang yang sudah tua itu baik, namun yang jauh lebih baik lagi tobatnya anak muda.

وَالجُوْدُ مِنَ اغْنِيَاءِ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الفُقَرَاءِ احْسَنُ

Hakikat taubat yaitu perasaan hati yang menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allâh SWT pada sisa usianya serta menahan diri dari dosa. Melakukan amal shaleh dan meninggalkan larangan adalah wujud nyata dari taubat.

Tobat tidak melulu harus dilakukan ketika sudah tua. Tobat harus dilakukan sejak dini, setiap saat, dari mulai baligh sampai ajal menjemput. Jangan anggap masa lalu adalah masa yang sangat jauh dari sekarang. Sedetik saja waktu berlalu, itu telah menjadi masa lalu, tidak dapat diulang kembali.   Karena itu, Allah dan nabi-Nya tidak pernah mensyaratkan “tua” sebagai salah satu syarat diterimanya tobat. Tobat bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, bahkan bagi orang yang merasa dirinya tidak pernah melakukan dosa. Dia harus tobat dari perasaannya itu, karena tidak ada manusia yang tidak luput dari kesalahan dan dosa.

Sayyidina Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “mâ min syai’in ahabbu ila Allah min syâbb tâ’ib—tidak ada yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang bertobat”

4. Dermawannya orang kaya itu baik, namun jauh lebih baik lagi dermawannya kaum fakir miskin.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dermawan adalah pemurah hati; orang yang suka berderma (beramal, bersedekah). Kedermawanan adalah kebaikan hati terhadap sesama manusia. Dalam konstruksi sosial-keagamaan, kedermawanan selalu dikaitkan dengan orang-orang kaya yang peduli kepada sesama. Mereka yang menyumbang atau membantu kaum miskin.

kedermawanan bukanlah monopoli ”milik” orang kaya. Orang miskin juga bisa menjadi dermawan. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 134 yang artinya ”(Orang-orang bertaqwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit...” (Qs. 3, Ali Imran: 134).

Demikianlah isi ceramah pengajian pekan ini yang bisa saya tulis disini, untuk tema kedua “Empat perkara yang buruk, namun ada empat perkara yang nilanya jauh lebih buruk” mungkin bisa saya tulis dilain kesempatan.

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan isi ataupun penulisan Hadits, mohon dimahfum.

Terimakasih

Wassalamu’alaikum Wr. Wb. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar